Pelanggaran peraturan, kini sudah menjadi barang yang sering kita lihat di tempat manapun di Indonesia. Ironis memang, di jaman yang sudah modern ini masih banyak ditemui kejadian yang sangat memalukan ini. Dan sungguh sangat sangat memalukan. Karena kebanyakan, adalah pelanggaran yang sebenarnya tidak perlu untuk dilanggar. Contohnya saja, pelanggaran di traffic light. Padahal sudah jelas tertulis, Belok Kiri Terus. Ini mengisyaratkan bahwa apabila kita ingin belok kiri, kita bisa langsung terus saja tanpa berhenti. Akan tetapi, masih saja kita harus berhenti apabila kita ingin belok kea rah kiri. Dikarenakan pelanggaran yang tidak perlu ini, yakni berhenti di traffic light. Sungguh sangat ceroboh, dan bodoh sekali. Dan tentu nya masih banyak lagi pelanggaran pelanggaran yang tak perlu dilanggar lainnya.
Padahal apabila pelanggaran yang tidak perlu tersebut tidak kita lakukan, tentunya akan menciptakan suatu keharmonisan yang tinggi. Seperti tidak perlu adanya kemacetan. Dan juga tidak perlu adanya keterlambatan hanya dikarenakan macet dijalan. Tapi pastinya hal ini juga membutuhkan kemauan yang kuat dari masing masing pihak. Kemauan, memang benar. Karena apabila ada seseorang yang ingin mengingatkan bahwa ini salah, biasanya orang tersebut akan dipermalukan. Karna ini sudah membudaya dari waktu ke waktu. Dan untuk memperbaiki budaya ceroboh ini, cukup sulit apalagi di Negara kita yang kaya akan seni dan budaya ini.
Sebenarnya mudah apabila kita ingin memperbaiki nya. Kita cukup menanamkan jiwa jujur, adil, tegas, disiplin, dan bertanggung jawab pada diri kita masing masing. Dan meningkatkan kesadaran kita akan suatu hal. Karena mungkin saja pelanggaran pelanggaran itu dilakukan oleh orang orang yang tidak sadar akan hokum. Benar benar orang yang tidak berpendidikan.
Jadi kesimpulannya untuk merubah kebiasaan jelek ini, memang sulit tapi ini sebenarnya bisa dilakukan. Asalkan kita bisa menanamkan hal yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Jujur, adil, tegas, disiplin, dan bertanggung jawab. Dan juga, kita harus menyadari akan suatu hal. Kita harus peka terhadap sesuatu untuk bisa menyelamatkan kita dari kebiasaan bodoh tersebut.
Sabtu, 11 Desember 2010
Pelanggaran yang tak perlu
Kamis, 02 Desember 2010
Merasa nyaman
Merasa nyaman, saat diputuskan oleh seorang cewek. Ku tak tahu kenapa kenapa. Mungkin juga karena, aku memang sudah tidak ada rasa dengan dia.
Mungkin para pembaca bingung, alasan apa aku jadian dengan dia. Aku jawab, karena aku ingin menyayangi dia. Ingin melindungi dia, ingin dia dapat menerima ku. Memang, dia menjawab YA. Tapi itu hanyalah jawaban semata, dan merupakan jawaban yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Karena saat proses pun, tidak ada kata pacaran. Aku dan dia tidak seperti sepasang kekasih. Sekedar, seperti teman dekat saja.
Ah malash juga bahas dia. Lebih baik ku jalani hidup ku, mengejar mimpi mimpi ku. Mengejar target ku, lulus 3,5 tahun dengan nilai cumlaude. AMIN!
Rabu, 01 Desember 2010
Kesadaran
Kesadaran, sepertinya sudah menjadi barang langka di Negara Indonesia. Kesadaran hukum, kesadaran dispilin, dan kesadaran yang lainnya.
Kesadaran hukum. Orang dengan sesuka hati nya melanggar hukum, dan tidak taat peraturan. Seperti melanggar ketentuan di traffic light tentang diperbolehkan atau tidak untuk belok kiri langsung. Padahal sudah jelas tertulis di bawah lampu lalu lintas, Belok kiri langsung. Tapi masih saja banyak kendaraan yang berhenti di lajur sebelah kiri. Sungguh sangat bodoh, ceroboh, dan basi sekali.
Kesadaran disiplin. Orang dengan sesuka hatinya bertindak semena mena. Misalnya saja, supir bus. Walaupun bus tersebut kelas ekonomi sekalipun, tapi tidak dengan cara berhenti seenaknya juga dong. Berhenti di perempatan, berhenti di tengah tengah jalan ketika jalan sedang ramai. Ini juga menyangkut tentang kemacetan yang terjadi di kota kota besar khususnya kota Jakarta. Untuk contoh kecil yang baru saja saya alami akhir akhir ini, terjadi di kota Surakarta. Padahal jelas di depannya masih ada jalur kosong atau sepi, tapi tidak segera jalan juga. Lagi lagi ternyata masalah disiplin. Supir bus dengan sesuka hatinya memberhentikan kendaraannya dimanapun asalkan ada penumpang yang mau naik, terutama di perempatan jalan. Padahal jelas kendaraan dibelakangnya masih sangat ramai dan mengantri, tapi supir bus dengan sesuka hatinya berhenti demi mendapatkan seorang penumpang. Tapi kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan supir bus. Akan tetapi adalah, kesadaran masing masing pihak. Walaupun yang berhenti sesukanya adalah supir bus yang menguasai kendali bus, tapi masih ada pihak lain yang bisa disalahkan. Yaitu, calon penumpang yang menunggu bus. Padahal sudah dibuat halte halte bus di kota kota besar termasuk Surakarta. Tapi para calon penumpang bus ini sesuka hatinya menunggu bus lewat lalu menyetopnya untuk dia naiki. Asalkan jalur tersebut dilalui oleh bus, pasti disepanjang jalur yang dilalui bus ada saja orang yang menunggu bus lewat. Dan untuk masalah di kota Jakarta yang teramat sangat super macet, mungkin permasalahnnya adalah ini. Bukannya semakin banyaknya pengendara sepeda motor, pengguna kendaraan pribadi lainnya seperti mobil. Akan tetapi masalah sebenarnya adalah kesadaran disiplin/kedisiplinan. Apabila semua pihak bisa saling sadar diri, mungkin saja di kota Jakarta tidak diperlukan lagi tertidur didalam bus dikarenakan kemacetan yang sangat memakan waktu, bahkan ini sangat mungkin terjadi.
Kesadaran yang lainnya. Orang orang banyak sekali yang seakan akan mereka tidak sadar akan sesuatu. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang ditunggu. Memang, menunggu adalah hal yang membosankan. Itu karena orang yang ditunggu tidak merasa bahwa mereka sedang ditunggu sesorang.
Ketidak sadaran inilah yang seharusnya menjadikan pelajaran untuk kita semua. Karena mungkin saja memang, masalah pendidikan lah yang menjadikan masalah ketidaksadaran ini sangat fatal. Benar kata dosen saya, dan memang seperti itulah kenyataannya. Apabila semua pihak berpendidikan, maka tidak perlu terjadi kemacetan dikarenakan ketidakdisiplinan. Tidak perlu adalanya pelanggaran hukum lalu lintas. Sungguh hal yang sangat sepele, tapi fatal akibatnya.
Jujur, adil, tegas, disiplin, dan bertanggung jawab. Jadilah warga Indonesia yang professional.
Belajar bersyukur
Bukankah sebaiknya kita mensyukuri apa yang telah kita dapatkan dan bukannya menyesali apa yang tidak atau gagal kita raih? 50% dari yang ada itu lebih baik daripada 100% dari yang tidak ada. Kita harus pandai pandai bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan dan anugerahkan kepada kita.
Maaf apabila tulisan saya kacau, karena jujur saya tidak dapat berkonsentrasi karena mengingat kejadian tadi.

