Kamis, 13 Oktober 2011

Kisruh tetangga

Tetangga, ialah sesuatu yang BIASANYA saling rukun satu sama lain. Karena namanya juga bedekatan. Tapi ini, tetangga yang runya, urusannya.
Mungkin tepat kata orang. Malaysia bilang, Indonesia adalah negara babu. Karena terlihat dari pengiriman TKW ke luar negeri, dan banyaknya PTJKI. Seharusnya, Indonesia tidak hanya mengirim tenaga kasar ke luar negeri, melainkan mengirimkan tenaga ahli. Tidak sekedar hubungan diplomatik dalam hal pengiriman TKI, tapi benar benar tenaga kerja ahli. Seperti halnya, teman saya di kampus. Dia saat ini dikirim ke singapura dalam urusan pertukaran pelajar. Ini adalah hal yang sangat membanggakan. Karena jelas, prestasi.

Benar mungkin, kata kata negara babu. Kita lihat, hubungan dengan negara tetangga. Padahal banyak kasus terjadi, penyiksaan terhadap TKI di negara tersebut. Tapi Indonesia saking superiornya, masih menjaga hubungan dengan sangat baik. Kenapa tidak tegas? Apakah sampai nanti selamanya akan seperti ini? Ketidak tegasan inilah yang membuat Indonesia menjadi melempem. Apabila sudah terdidik dengan ketegasan semenjak kecil mulai dari atas sampai bawah, akan menjadi sosok yang luar biasa.

Apabila kita mampu untuk benar benar tegas, itu juga akan sangat menguntungkan bagi kita semua. Kita tegas terhadap sesuatu, itu berarti ada pengorbanan. Karena pengorbanan itu sangat diperlukan, untuk menuju kesuksesan/menuju suatu tujuan. Kalau tegas dan memutuskan hubungan diplomatik, seharusnya kita mau dan mampu untuk menciptakan hubungan diplomatik dengan negara lain. Jadi, membuat kesan seakan akan bukan kita yang membutuhkan hubungan diplomatik. Buat kesan bahwa pihak lain lah yang membutuhkan kita.

Tapi untuk mewujudkan itu, sepertinya akan sangat sulit. Karena bisa dinilai secara individu (pendapat pribadi). Bahwa kita terlalu indah bermimpi, tapi tidak sebanding dengan sikap dan perilaku kita. Mimpi kita indah, tapi tidak diimbangi dengan proses menuju impian itu. Mimpi telah membuat kita lupa dengan proses mencapainya. Ini bisa dibuktikan dari kejadian banjir di ibukota Jakarta. Banjir justru dikota kota besar. Sekarang, banjir bukan ndeso lagi. Tapi banjir adalah budaya orang kota. Kalau memang benar orang orang tidak menginginkan terjadinya banjir, kenapa masih saja membiarkan sampah menggenang? Bukankah lebih baik tidak membuang sampah disembarang tempat, juga apabila kita melihat sampah berserakan bukankah lebih mulia apabila kita pindahkan ke tempat sampah.

Manusia tidak seimbang antara keinginan dan usaha. Manusia terlalu banyak keinginan, tapi tidak banyak usaha. Ini yang membuat bumi ini tidak seimbang, ini yang sangat kita takutkan. Kita menginginkan keseimbangan alam. Akan tetapi, apa usaha kita? Kita hanya mampu memiliki keinginan, tapi kita tidak tahu usaha apa yang seharusnya kita lakukan.

Mari mulai saat ini, kita fokus terhadap usaha. Karena impian tanpa usaha, sama juga dengan omong kosong.

0 komentar:

Poskan Komentar

Anda dapad mengisi komentar disini. Lu isa ninkgalin comment guyz!. Jangan lupa kasih komentar ya, karena saya memang menunggu feedback dari para pembaca. Terimakasih sebelumnya